Senin, 04 Mei 2015

Menilai efektivitas dan efikasi suatu produk handrub

Salam pencegahan infeksi!

Menilai suatu produk handrub suatu lab mikrobiologi sederhana yang melekat di RS dapat dengan mudah dilakukan. Suatu RS yang telah menjalankan PPI dan PPRA yang baik (lihat postingan sebelumnya) rutin melakukan uji efektivitas dan efikasi handrub, bahkan handrub buatan lokal (home-made). Metode yang dikenal dapat dibagi menjadi dua: metode in vivo dan metode in vitro. Metode in vitro menggunakan koefisien fenol. Sedang metode in vivo menggunakan reduced colony count.
Metode koefisien fenol.
Metode koefisien fenol telah lama dikenal sebagai metode penghitungan efisiensi daya bunuh suatu desinfektan (handrub) yang dibandingkan dengan larutan fenol terstandar. Prinsip utama dari pemeriksaan ini adalah menggunakan jumlah koloni kuman terstandar (Staphylococcus aureus sebagai perwakilan bakteri Gram positif dan Salmonella typhi sebagai perwakilan bakteri Gram negatif) yang dilarutkan ke dalam larutan fenol dan handrub dan dihitung keberadaan bakteri yang masih hidup dengan ditumbuhkan ke media cair nutrient setelah 5, 10 dan 15 menit kemudian. Hasil perhitungannya menggunakan faktor pengenceran desinfektan tertinggi tabung yang jernih (bebas pertumbuhan mikroba) dibagi faktor pengenceran fenol tertinggi tabung yang jernih (bebas pertumbuhan mikroba). Semakin tinggi koefisien fenol, semakin efektif dan efikasi suatu desinfektan.
Metode reduced colony count
Metode ini merupakan metode pemeriksaan swab tangan pada saat sebelum dicuci dengan handrub, segera setelah, 1 menit, 5 menit dan 10 menit setelah menggunakan handrub. Swab ditanam pada media NAP dan dibandingkan jumlah koloni antar timing sampling swab tersebut. Metode ini tidak dipergunakan untuk tujuan komersial (misal validasi uji antibakteri suatu handrub) namun menjadi alternatif jika metode koefisien fenol tidak dapat dilakukan. Hasil uji ini bersifat tertutup dan hanya menjadi kebijakan suatu institusi lokal, misal penilaian uji handrub di suatu unit neonatal intensive care (NICU).
Handrub komersial yang telah dipasarkan idealnya telah melalui uji koefisien fenol dari laboratorium mikrobiologi yang diakui/ terakreditasi. Dalam kenyataannya penggunaan handrub untuk konsumsi keseluruhan RS memerlukan jumlah handrub yang tidak sedikit, sehingga WHO mengeluarkan kebijakan komposisi handrub yang dapat dibuat sendiri oelh instalasi farmasi RS (home-made handrub).
Tidak ada handrub yang terbaik yang tersedia saat ini bahkan sampai kapanpun, karena faktor efektivitas dan efikasi handrub dalam konsep pengendalian infeksi RS dipengaruhi oleh: (1) komposisi handrub (2) cara pemakaian handrub yang baik (3) lama waktu membersihkan tangan menggunakan handrub (4) tingkat iritasi minimal (5) selalu dipergunakan disaat yang tepat (five moment WHO) (6) tingkat kepatuhan petugas.

Selasa, 24 Maret 2015

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di RS: apa dan bagaimana?

Salam pencegahan infeksi!

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di RS memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang beririsan dengan tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RS. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, penulis mencoba mengurai apa esensi dari PMK No 8/2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di RS dan pokok pembahasan lain yang penting untuk diketahui. Dalam peraturan menteri ini jelas dipaparkan bagaimana cara menekan / mengendalikan resistensi antimikroba di RS yaitu dengan penggunaan antibiotika secara bijak dan peningkatan ketaatan terhadap prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi.
Komponen penggunaan antibiotika secara bijak yang dimaksud oleh PMK ini adalah:
1. Peran serta klinisi dan pemangku kepentingan bidang penyakit infeksi dalam mematuhi kaidah penggunaan antibiotika secara bijak
2. mengembangkan dan  meningkatkan fungsi  laboratorium mikrobiologi klinik dan laboratorium penunjang lainnya dalam penanganan penyakit infeksi.
3. Meningkatkan peran farmasi klinik dan farmakologi klinik
4. Melakukan surveilan pola penggunaan antibiotika
5. Melakukan surveilan pola kuman dan sensitivitas terhadap berbagai antibiotika
Tim pelaksana PPRA RS adalah: perwakilan SMF/klinisi, keperawatan, instalasi farmasi, laboratorium mikrobiologi klinik, tim Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI) dan tim Farmasi dan terapi.
Lalu bagaimana jika tim PPRA sudah bekerja dengan baik/ efektif atau belum? Adalah dengan melihat:
1. Penurunan penggunaan antimikroba secara kuantitatif dari satu periode ke periode berikutnya (ATC/DDD menurut WHO)
2. Penurunan jumlah infeksi yang disebabkan oleh multi-drugs resistance organism (MDRO) ditingkat RS
3. Perbaikan kualitas penggunaan antimikroba (lihat alur Gyssens)
4. Peningkatan mutu penanganan penyakit infeksi secara tim multidisiplin
Dalam lampiran PMK ini dijelaskan secara rinci step-by-step apa yang harus dilakukan oleh tim PPRA yang bekerja begitu telah terbentuk:
1. Pengembangan kebijakan pengkategorian antibiotika menjadi: non-restricted, restricted dan reserved. Non-restricted adalah kategori antibiotika yang dapat diresepkan oleh semua klinisi yang ada di RS tersebut. Restricted mengacu pada antibiotika yang hanya dapat diresepkan oleh konsulen penyakit infeksi (Spesialis konsultan infeksi) dan klinisi yang disetujui/ Acc oleh konsulen penyakit infeksi dan atau ahli mikrobiologi klinik. Reserved mengacu pada pengkategorian antimikroba yang penggunaannya hanya didasarkan pada hasil pemeriksaan identifikasi kuman dan sensitivitasnya terhadap antimikroba.
2. Pembuatan pedoman penggunaan antibiotika umum (profilaksis bedah/medis, sebagai terapi per SMF secara empiris berdasarkan pola kuman lokal) yang dievaluasi berkala.
3. Melakukan rekomendasi pemeriksaan identifikasi kuman dan sensitivitasnya dengan/ tanpa persetujuan DPJP (dokter penanggung jawab pasien) dan streamlining / de-eskalasi penggunaan antimikroba.
4. Identifikasi kuman MDRO dan menetapkan KLB MDRO yang memerlukan konsekuensi tindak lanjut.
5. Melakukan sistem pelaporan periodik yang terstruktur dan mudah dievaluasi.
Kinerja sinergi antara tim PPRA dan PPI ini diperlukan dalam menekan laju MDRO dan belanja antimikroba tingkat RS.

Jumat, 20 Maret 2015

Bagaimana Mengembangkan Program Pengendalian Infeksi Di RS

Salam Pencegahan Infeksi!



Penyakit infeksi termasuk dalam 3 besar penyebab kematian di dunia. Menurut data WHO 2004 penyakit ini bertanggung jawab atas kematian 4 juta orang, 27% di antaranya terjadi di wilayah Asia Tenggara. Selain itu, sejak tahun 1945 telah terdapat lebih dari 350 penyakit infeksi yang diidentifikasi disebabkan oleh mikroba ’baru’. Sebagai contoh mikroba ’baru’ adalah HIV, virus flu burung, virus penyebab sars, serta beberapa bakteri yang telah resisten terhadap antimikroba yang lazim digunakan (MRSA, ESBL, M.tuberculosis MDR dan XDR). Nampaknya mikroba-mikroba tersebut akan tetap menjadi masalah dan bukan tidak mungkin akan timbulnya mikroba baru lainnya bila penanganan infeksi tidak dilakukan secara serius dan menyeluruh.

Penyakit infeksi tidak hanya menjadi masalah di rumah sakit melainkan juga di masyarakat. Pasien yang dirawat di rumah sakit mempunyai risiko tinggi menderita infeksi nosokomial, yang seringkali disebabkan oleh bakteri multiresisten dan jamur sebagai akibat penggunaan antibiotik berspektrum luas yang tidak rasional. Infeksi ini banyak terjadi pada pasien-pasien yang harus dirawat lebih lama di rumah sakit, seperti pasien yang dirawat di ICU, dengan transplantasi organ, trauma, pasien lanjut usia, dsb.

Infeksi yang didapat dari RS atau juga disebut sebagai infeksi nosokomial (Health-care associated infections/ HAIs) oleh CDC didefinisikan sebagai infeksi yang didapatkan oleh pasien rawat inap setelah dirawat 48-72 jam tanpa adanya bukti infeksi atau periode inkubasi pada saat datang ke RS. HAIs dapat disebabkan oleh kuman endogen yang juga dikenal dengan normal flora pasien maupun eksogen (diluar dari tubuh pasien). CDC (2008) merinci 13 jenis HAIs yang telah dilaporkan dengan empat jenis infeksi RS yang terbanyak: Infeksi Aliran Darah (IAD), Penumonia, Infeksi Saluran Kencing (ISK) dan Infeksi Luka Operasi (ILO).


Upaya pengendalian infeksi sebenarnya dimulai sejak perencanaan bangunan RS. Terdapat tiga hal yang dapat mengendalikan infeksi: konstruksi bangunan, kewaspadaan standar dan program pengendalian infeksi (PPI). Jika RS sudah berdiri maka manajemen RS sudah seharusnya mengembangkan aktivitas kewaspadaan standar dan program PPI yang berkelanjutan. Yang dimaksud dengan aktivitas kewaspadaan standar disini adalah: hand hygiene (lihat poster five moments hand hygiene WHO 2009), penggunaan Alat Pelindung Diri sesuai dengan level infeksi, pengolahan limbah cair dan padat, kepatuhan terhadap SOP tindakan medis, penanganan makanan, pengolahan linen (CSSD), unit sterilisasi RS. 

Bagaimana mengembangkan PPI di RS?
PPI di Rumah Sakit sering dimulai terkait isu akreditasi RS (KARS) bukan dimulai dari laporan kejadian infeksi nosokomial. Hal ini wajar, dikarenakan oleh program perencanaan sistem pelaporan infeksi nosokomial itu sendiri merupakan bagian dari PPI. Penilaian KARS dalam standar PPI sendiri menyatakan bahwa keberadaan program surveilance dan kampanye PPI rutin menjadi tolak ukur keberadaan program pengendalian bukan sesuatu yang sulit dilakukan oleh RS dengan limited-resource sekalipun. Adapun langkah-langkah pengembangan pengendalian infeksi di RS dimulai dengan pembentukan struktur organisasi PPI yang ditandatangani direktur, identifikasi sejauh mana prinsip-prinsip PPI yang sebenarnya telah dilakukan sejak lama, rank unit-unit mana dari RS mulai dari upaya PPI terbesar sampai dengan terendah hanya sebagai catatan manajemen. Urutan ranking ini amat bermanfaat ketika melakukan intervensi PPI. Mana unit yang memerlukan banyak intervensi dan unit mana yang minim intervensi. Intervensi dini yang paling penting dan paling mudah dilakukan adalah dimulai dengan penyediaan lokasi cuci tangan dan kampanye cuci tangan (lihat disini). Lakukan ini sesering mungkin sesuai kemampuan RS kemudian lakukan survey kepatuhan cuci tangan.
Langkah selanjutnya adalah penerbitan / menertibkan SOP-SOP yang berhubungan dengan pengendalian infeksi. Mulai dari SOP yang paling sederhana dan paling melibatkan personel terbanyak di RS. 
Ketika semua langkah tersebut sudah dilakukan, baru kegiatan surveilans penyakit infeksi nosokomial di RS dapat dimulai. Berikut adalah contoh laporan infeksi nosokomial oleh penulis (lihat jurnal infeksi nosokomial).
Jangan lupa semua kegiatan meeting, perencanaan dan aktivitas intervensi harus didokumentasikan dengan baik.
Demikian postingan pertama kami...

Salam Pengendalian Infeksi