Salam pencegahan infeksi!
Menilai suatu produk handrub suatu lab mikrobiologi sederhana yang melekat di RS dapat dengan mudah dilakukan. Suatu RS yang telah menjalankan PPI dan PPRA yang baik (lihat postingan sebelumnya) rutin melakukan uji efektivitas dan efikasi handrub, bahkan handrub buatan lokal (home-made). Metode yang dikenal dapat dibagi menjadi dua: metode in vivo dan metode in vitro. Metode in vitro menggunakan koefisien fenol. Sedang metode in vivo menggunakan reduced colony count.
Metode koefisien fenol.
Metode koefisien fenol telah lama dikenal sebagai metode penghitungan efisiensi daya bunuh suatu desinfektan (handrub) yang dibandingkan dengan larutan fenol terstandar. Prinsip utama dari pemeriksaan ini adalah menggunakan jumlah koloni kuman terstandar (Staphylococcus aureus sebagai perwakilan bakteri Gram positif dan Salmonella typhi sebagai perwakilan bakteri Gram negatif) yang dilarutkan ke dalam larutan fenol dan handrub dan dihitung keberadaan bakteri yang masih hidup dengan ditumbuhkan ke media cair nutrient setelah 5, 10 dan 15 menit kemudian. Hasil perhitungannya menggunakan faktor pengenceran desinfektan tertinggi tabung yang jernih (bebas pertumbuhan mikroba) dibagi faktor pengenceran fenol tertinggi tabung yang jernih (bebas pertumbuhan mikroba). Semakin tinggi koefisien fenol, semakin efektif dan efikasi suatu desinfektan.
Metode reduced colony count
Metode ini merupakan metode pemeriksaan swab tangan pada saat sebelum dicuci dengan handrub, segera setelah, 1 menit, 5 menit dan 10 menit setelah menggunakan handrub. Swab ditanam pada media NAP dan dibandingkan jumlah koloni antar timing sampling swab tersebut. Metode ini tidak dipergunakan untuk tujuan komersial (misal validasi uji antibakteri suatu handrub) namun menjadi alternatif jika metode koefisien fenol tidak dapat dilakukan. Hasil uji ini bersifat tertutup dan hanya menjadi kebijakan suatu institusi lokal, misal penilaian uji handrub di suatu unit neonatal intensive care (NICU).
Handrub komersial yang telah dipasarkan idealnya telah melalui uji koefisien fenol dari laboratorium mikrobiologi yang diakui/ terakreditasi. Dalam kenyataannya penggunaan handrub untuk konsumsi keseluruhan RS memerlukan jumlah handrub yang tidak sedikit, sehingga WHO mengeluarkan kebijakan komposisi handrub yang dapat dibuat sendiri oelh instalasi farmasi RS (home-made handrub).
Tidak ada handrub yang terbaik yang tersedia saat ini bahkan sampai kapanpun, karena faktor efektivitas dan efikasi handrub dalam konsep pengendalian infeksi RS dipengaruhi oleh: (1) komposisi handrub (2) cara pemakaian handrub yang baik (3) lama waktu membersihkan tangan menggunakan handrub (4) tingkat iritasi minimal (5) selalu dipergunakan disaat yang tepat (five moment WHO) (6) tingkat kepatuhan petugas.